Press "Enter" to skip to content

KENALI MEREKA YANG MENJADI GARDA TERDEPAN

Githa Nur Afiefah, S.Ked
(Dokter Muda Bagian IKM-IKK FK UMI)

INDIKATORINTIM.COM – Dunia dilanda duka, dunia tengah menghadapi pandemi global COVID-19 yang memprihatinkan, termasuk Ibu Pertiwi Indonesia yang kita cintai bersama. Setelah pada tanggal 2 Maret 2020 Pemerintah mengumumkan 2 orang pertama di Indonesia positif Covid-19, angka ini terus meningkat hingga per hari ini.

10 Juni 2020 terkonfirmasi 34.316 orang terinfeksi virus corona dengan 20.228 orang dirawat, 12.129 kembalikan kekeluarganya dan dinyatakan sembuh, dan 1.959 meninggal menemui Sang Pencipta.

Infomasi ini tentu bukan informasi yang kita tunggu dan kita harapkan kita berharap ada kepastikan kapan wabah ini dapat berakhir namun dibalik semua ini ada reaksi yang timbul di kalangan beberapa oknum masyarakat hal itu tentu saja membuat kaget, kesal, takut dan bahkan menganggap hal ini biasa saja, terlebih hampir 3 bulan lamanya mereka dilanda bosan hingga kecemasan dan pada akhirnya membebaskan diri mereka sendiri dari masa karantinya.

Namun di balik semua kondisi di atas saya kemudian ingin sejenak mengajak kita berpikir bahwa ada orang-orang yang bekerja 24 jam rela berpisah dengan suami, istri, buah hati dan bahkan orang-orang terkasih hanya untuk menyembuhkan duka Ibu Pertiwi bahkan dunia ini.

Areema Nasreen, seorang perawat di Inggris berusia 36 tahun yang pada akhirnya diketahui ikut terpapar Covid-19 sehingga harus terbaring menggunakan ventilator, dan baru bisa meninggal dengan tenang setelah sang suami berbisik

“Jangan khawatir tentang anak-anak”.

Begitu pula di Indonesia, dr.Hadio Ali Khazatsin. Seorang dokter ahli saraf dari Universitas Indonesia yang juga ikut terpapar Covid-19 karena menjaga amanah pekerjaannya sebelum pada akhirnya kembali kepada Sang Maha Pencipta.

Mungkin ini hanya segelintir cerita, tetapi begitulah kenyataan yang harus tenaga medis kita jalani. Suatu dilema berat antara tetap bersama orang-orang yang mereka sayangi ataukah memenuhi sumpah profesi, tidak hanya perihal tinggal dan meninggalkan, teruntuk mereka yang masih berjuang, tak jarang mereka sangat merasakan lelah untuk raga lain yang dijaganya hingga tak jarang lantai rumah sakit bisa menjadi saksinya.

Tak cukup sampai disitu, tidak jarang mereka menerima diskriminasi dan kecurigaan dari lingkungan sekitar tempat mereka berada sehingga memilih untuk tidak pulang demi kepentingan bersama.

Sekarang, apakah kita masih menganggap semua yang terjadi ini adalah hal yang biasa saja, setelah melihat perjuangan saudara-saudara kita mengorbankan waktu, perasaan dan bahkan nyawa sekalipun demi menyelamatkan duka dunia. Bahkan setelah melihat tiap-tiap pengorbanan yang mereka lakukan, pantaskah kita masih bisa berpikir bahwa tenaga medislah yang menjadi penyebab kekacauan ini hanya untuk kepentingan pribadi mereka.

Berada tetap di rumah dengan kondisi seperti sekarang ini diakui tidaklah mudah, tak ada yang kemudian bisa dengan entengnya berdiam tanpa ada kepastian tapi setidaknya jika kita tidak mampu untuk menggantikan posisi mereka, marilah kita sedikit meringankan beban mereka dengan bersabar dan mengikuti semua prosedur pencegahan baru yang telah pemerintah kita anjurkan serta tidak memunculkan opini untuk melukai hati tenaga medis kita yang menjadi garda terdepan. Saya pribadi sebagai masyarakat Indonesia, memberikan apresiasi dan rasa hormat setinggi-tingginya atas jasa kalian para pahlawan garda terdepan. Semoga corona cepat berlalu dan dunia kembali seperti normal-normal sebelumnya.

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial