Press "Enter" to skip to content

Buruh-Buruh Itu Tidur Di Kamar Sang Majikan

INDIKATORINTIM.COM – Buruh adalah kaum marjinal yang sering diasosiasikan sebagai yang dikuras untuk upah sepersepuluh. Dianggap sebagai tenaga kerja yang tidak ahli, menjadikan harga mereka hanya terbatas pada alibi.

Kehidupan yang keras, tuntutan kerja yang bias, membuat para buruh tak pernah berhenti untuk mengeluh puas. Takdir menjadi kesalahan dan nasib menjadi tumpahan, para buruh harus sabar dari gempuran.

Sejarah mencatat bahwa kaum buruh adalah pihak yang selalu merasakan ketidakadilan. Mulai dari sejarah perbudakan, dimana mereka harus menerima untuk tidak menjadi manusia. Masa kolonial, mengharuskan mereka belajar sebagai yang tertindas, dan masa order baru, dimana suara mereka adalah hal yang terlarang

Hingga kepada masa reformasi, buruh tetap menjadi luapan eksploitasi. Meskipun santer bersuara, namun tidak terdengar. Memang telah ada kemajuan dengan banyaknya undang-undang baru yang tercipta untuk melindungi hak buruh, namun tetap saja merupakan bahan perdebatan tak berkesudahan

Pemerintah dan pengusaha selalu menjadi sorot aksi mereka. Sebabnya kedua kaum ini selalu dianggap sebagai “musuh” abadi. Meskipun saling membutuhkan, namun stigma buruh sendiri tidak akan pernah terlepas dari penindasan kaum penguasa dan pengusaha.

May Day melambangkan titik balik perjuangan buruh atas ketidakadilan yang dirasakan. Topik yang paling favorit adalah upah yang tidak layak, jam kerja yang layak, hak cuti, uang lembur, dan lain sebagainya.

Apapun yang terjadi, pokoknya semua harus diungkapkan. Perkataan miris yang sering didengungkan, harus diterima tanpa ketersinggungan. Semuanya merupakan bunga-bunga kepenatan, setelah setahun menunggu lamanya.

Namun apakah memang benar demikian adanya?

Mari kita jujur pada diri sendiri, lihatlah apa yang ada disekitar kita, kenyataan apa yang terpampang?

Apakah semua penguasa selalu menaruh kepentingan buruh sebagai yang terakhir? Apakah semua pengusaha duduk di kantor mewahnya tanpa memedulikan nasib buruh? Dan apakah memang semua buruh merasakan ketidakadilan?
Tidak perlu dibahas. Bahwa buruh adalah kaum marjinal yang tidak dipedulikan dan tertindas oleh para majikan adalah stigma yang terbentuk di May Day. 

Mari kita rehat sejenak, dan mendengarkan sebuah cerita dari seorang majikan di sebuah kota di pulau Jawa.

Ia adalah pengusaha roti, yang memperkerjakan sekitar 20 orang buruh produksi. Setiap hari, para buruh bangun jam 3 pagi hanya untuk mengaduk adonan yang memberikan kekayaan kepada sang majikan.

Tidak mendapatkan upah lembur yang layak, namun itu adalah keharusan. Tidak mendapatkan jam istirahat yang cukup, apa daya, pelanggan tidak pernah berhenti memesan.

Sang Majikan menjadikan hal tersebut sebagai sebuah kebanggan dan dipertontonkan kepada setiap tamu yang datang berkunjung. Keahlian sang majikan dalam memainkan rasa kemanusiaan adalah sebuah kesenangan baginya.

“Ini kamar saya, coba lihat…” sambil menunjukkan sebuah kamar dengan interior mewah. Lantai berparkit kayu, dinding berpanel putih, lengkap dengan televisi flat 60 inci. Jelas, sentuhan desain interior modern dan mahal sangat terasa.

Langkah kaki dilanjutkan ke arah teras di belakang rumah yang tidak kalah mewah, lengkap dengan halaman luas yang dipenuhi tanaman indah teratur. Ruang terbuka tersebut juga dijadikan tempat parkir mobil, karena terhubung dengan lorong belakang rumah, tempat keluar masuk mobil.

“Disini adalah tempat kita biasa berkumpul menjelang malam. Mereka juga bisa menggunakannya untuk berkumpul bersama teman atau keluarga dekat dari kampung.”

“Dan coba lihat mobil itu. Ada televisinya loh, dan joknya juga sudah aku ganti dengan yang nyaman.” Ujar sang majikan sambil menunjuk ke arah sebuah minibus dengan kapasitas 15 penumpang.

Jelas kemewahan terpampang sepanjang perjalanan mengelilingi rumah yang juga merupakan toko dan tempat produksi si engkoh pemilik.

“Nah, ini dia” ujarnya sembari membuka sebuah pintu kamar lainnya.

Sebuah ruangan yang besarnya sekitar tiga kali lipat dari kamar majikan. Berisikan beberapa ranjang susun menandakan banyaknya penghuni yang menempati kamar itu.

Yang lebih mengagumkan, ternyata desain interior kamar tersebut persis sama dengan desain kamar utama yang ditempati oleh sang bos dan nyonya. Lantai parkit, panel kayu, televisi flat, dan juga beberapa unit pendingin ruang.

“Nah disinilah kamar anak-anaku beristirahat, persis kamarku kan? Ya, sengaja dibuat demikian, karena mereka harus menikmati apa yang telah aku nikmati.” Ujar si toke dengan bangga.

“Tanpa mereka, aku tidak akan kaya. Mereka sudah bangun jam 3 pagi, sementara aku masih terlelap. Mereka sudah tahu apa yang harus dilakukan, tanpa perlu diperintah lagi. Wajarlah jika semua fasilitas di rumah ini, teras, ruang tamu, mobil, juga pantas dinikmati oleh mereka.”

Tidak sampai disitu saja, si majikan ternyata punya cara ampuh untuk mengajar anak-anaknya untuk menabung. Mereka hanya diberikan satu juta rupiah saja dalam bentuk tunai setiap bulannya.

Dimaksudkan untuk berbelanja keperluan sehari-hari, sebagian besar upah mereka ditabung untuk keperluan keluarga di kampung, atau untuk urusan penting mendadak lainnya. Selebihnya, makanan, kesehatan, dan pendidikan menjadi urusan penuh dari sang bos yang baik hati.

Memang tidak semua hubungan majikan dan buruh terjadi dengan demikian harmonisnya. Namun kita tidak bisa menutup mata, bahwa apa yang didengungkan oleh para buruh di May Day hanya melulu masalah ketidakadilan.

Memang masih banyak majikan-majikan lainnya yang juga tidak memedulikan nasib para buruh, namun juga adalah hak para buruh untuk dapat mencari pekerjaan lain yang lebih baik lagi. 

Para pengusaha tidak boleh mengeksploitasi tenaga murah, namun para buruh juga tidak perlu melakukan kekerasan dan kata-kata kasar untuk memperjuangkan nasibnya.

Kita adalah manusia Indonesia yang penuh dengan kesantunan. Bahwa ketidakadilan yang terjadi adalah benar adanya. Namun di balik ketidakadilan, selalu ada upaya untuk menempuh keadilan tanpa pengadilan.

Penulis kemudian lanjut membayangkan.

“Aku pernah didatangi dinas terkait mengenai upah yang aku bayar untuk anak-anaku, katanya di bawah UMP, tapi coba lihat, apakah ada yang tidak puas?” ujar si engko.

“Ya tidak adalah, gaji mereka aku tabung kok, karena itu adalah caraku dulu mejadi kaya. Mana ada bos majikan jaman sekarang yang begitu baiknya.”

“Aku bilang ke orang dinas, emangnya ada peraturan yang mengharuskan majikan membayar pendidikan untuk anak-anak pegawainya? Nah aku sudah lebih maju dari undang-undang.”

“Yang penting sekarang, apa yang aku atur ke anak-anakku, semuanya senang, hubungan keluarga ini tidak perlu diatur dengan undang-undang.”

May Day tahun lalu berjalan seperti biasa, dan si engkoh dan istrinya bersantai di depan televisi di teras rumah. Anak-anaknya duduk nyaman melantai sambil mengunyah camilan yang dibeli dari sebelah rumah.

Mereka menikmati acara demo buruh yang diliput oleh semua stasiun televisi. Mencoba untuk merasakan apa yang tidak pernah mereka rasakan. Kehidupan berlanjut normal tanpa ketidakadilan diantara hubungan industrial yang seharusnya diatur oleh undang-undang ketenagakerjaan.

Terinpirasi oleh Dhammadesana Y.M. Bhikkhu Uttamo Mahathera

Rudy Gunawan, B.A., CPS

Numerolog Pertama di Indonesia — versi Rekor MURI

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial