Press "Enter" to skip to content

BUKTI LENGKAP LAPORAN AUTOPSI JENAZAH ENAM JENDRAL DAN SATU LETNAN MUDA

INDIKATORINTIM.COM – SIKSA keji Gerwani kepada para jendral korban G30S merebak seantero pertiwi. Dua koran militer, Angkatan Bersendjata dan Berita Yudha, menjadi pemasok informasi mengenai pencungkilan mata dan pemotongan kemaluan korban.


Berita-berita kekejian Gerwani, tulis Saskia Eleonora Wieringa dalam Penghancuran Gerakan Perempuan: Politik Seksual di Indonesia Pasca-Kejatuhan PKI, terbit di beberapa koran antara 1 Oktober sampai bulan-bulan pertama tahun 1966, sebagai kampanye fitnah tentang keterlibatan para anggota Gerwani di Lubang Buaya.


Informasi itu meluas menjadi kebenaran umum tanpa bisa dikonfirmasi. Kantor-kantor Gerwani jadi amarah massa. Pada 12 Oktober 1965, kantor-kantor Gerwani dibakar, para demonstran kemudian meneriakan “bubarkan PKI, Hidup Bung Karno!” tulis harian Angkatan Bersendjata, 13 Oktober 1965.


Di tengah arus besar berita tersebut, Indonesianis Benedict Anderson asal Cornell University, terpantik melakukan penelitian tentang peristiwa G30S. Ben sapaan akrabnya lantas berusaha mencari dokumen berkait peristiwa kelam di tahun 1965. Dia membongkar gudang penuh debu, membolak-balik ribuan halaman hasil fotokopi laporan stenografi pengadilan Letkol Penerbangan Heru Atmodjo di hadapan Mahkamah Militer Luar Biasa.


Di sana, Ben menemukan lampiran berkas pengadilan berisi laporan forensik medis jenazah enam jenderal dan satu letnan muda. Laporan visum et repertum atau hasil autopsi tersebut disusun oleh tim dokter terdiri dari, dua dokter Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD), dr. Brigjen Roebiono Kertapati dan dr. Kolonel Frans Pattiasina, serta tiga dokter sipil spesialisasi forensik medis Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), terdiri dari dr. Sutomo Tjokronegoro, dr. Liau Yan Siang, dan dr. Lim Joe Thay.


Tim forensik medis dibentuk pada hari Senin, 4 Oktober 1965, berdasar perintah tertulis Mayjen Soeharto, Panglima KOSTRAD, kepada kepala RSPAD. Dari hasil laporan autopsi tersebut, Ben lantas menerbitkan publikasi bertajuk “How Did The Generals Die” terbit di Jurnal Indonesia, April 1987, dengan memuat laporan autopsi lengkap jenazah enam jendral dan satu letnan muda, dengan rincian:

1. Achmad Yani

Di tubuh Achmad Yani terdapat 10 luka tembak baru dan 3 luka tembak lama. Luka tembak masuk, 2 di dada kiri, 1 di dada kanan bawah, 1 di lengan kanan atas, 1 di garis pertengahan perut, 1 di perut bagian kiri bawah, 1 di perut kanan bawah, 1 di paha kiri depan, 1 di punggung kiri, dan 1 di pinggul garis pertengahan.

Luka tembak keluar, 1 di dada kanan bawah, 1 di lengan kanan atas, 1 di punggung kiri bagian dalam. Kondisi lain, sebelah kanan bawah garis pertahanan perut ditemukan kancing dan peluru sepanjang 13mm pada punggung kanan.

2. DI Panjaitan

Di tubuh Panjaitan terdapat tiga tembakan di kepala dan luka iris di tangan. Luka tembak masuk, 1 di alis kanan, 1 di kepala atas kanan, 1 di kepala kanan belakang, dan 1 di kepala belakang kiri.

Luka tembak keluar, 1 di pangkal telinga kiri dan kondisi lain, punggung tangan kanan kiri terdapat luka iris.

3. R Soeprapto

R Soeprapto meregang nyawa akibat 11 tembakan di tubuhnya. Luka tembak masuk, 1 di punggung pada ruas tulang punggung keempat, 3 di pinggul kanan, 1 di pinggul kiri belakang, 1 di bokong sebelah kanan, 1 di pinggang kiri belakang, 1 di pantat sebelah kanan, dan 1 di pertengahan paha kanan.

Luka tembak luar, 1 di bokong kanan, 1 di paha kanan belakang, sementara terdapat luka tidak teratur, 1 di kepala kanan, atas telinga, 1 di pelipis kanan, 1 di dahi kiri, 1 di bawah kuping kiri, dan kondisi lain, tulang hidung patah, dan tulang pipi kiri lecet.

4. MT Haryono

Pada laporan autopsi MT Haryono, menurut Ben Anderson sangat mencurigakan karena tidak ditemukan luka tembakan sebagaimana termut di harian Berita Yudha edisi 28, tentang kematian MT Haryono lantaran ditembak secara langsung dan mendadak.

Menurut hasil visum kematian MT Haryono karena luka tusukan panjang dan dalam di bagian perut.

Luka tidak teratur, 1 tusukan di perut, 1 di punggung tangan kiri, 1 di pergelangan tangan kiri, dan 1 di punggung kiri tembus dari depan.

5. Soetojo Siswomihardjo

Luka tembak masuk di tubuh Soetojo, 2 di tungkai kanan bawah, 1 di atas telinga kanan, sementara luka tembak luar, 2 di betis kanan, da 1 di telinga kanan. Luka tidak teratur, berupa 1 di dahi kiri, 1 di pelipis kiri, 1 di tulang ubun-ubun kiri, dan di dahi kiri tengkorak remuk.

6. S Parman

S Parman terkena lima luka tembakan, termasuk dua tembakan mematikan di kepala. Luka tembak masuk, 1 di dahi kanan, 1 di tepi lekuk mata kanan, 1 di kelopak atas mata kiri, 1 di bokong kiri, dan 1 di paha kanan depan.

Luka tembak keluar, 1 di tulang ubun-ubun kiri, 1 di perut kiri, 1 di paha kanan belakang. Sementara luka tidak teratur, berupa 2 luka di belakang daun telinga kiri, 1 di kepala belakang, 1 di tungkai kiri bawah bagian luar, dan 1 di tulang kering kiri.

7. Pierre Tendean

Kapten Pierre Tendean tewas akibat luka tembak. Luka tembak masuk, 1 di leher belakang sebelah kiri, 2 di punggung kanan, 1 di pinggul kanan. Luka tembak keluar, 2 di dada kanan, sementara luka tidak teratur, 1 di kepala kanan, 1 di tulang ubun-ubun kiri, 1 di puncak kepala.

Dari hasil visum et repertum tersebut, tidak ditemukan laporan mengenai luka pada bagian testis, anus, testis, mata, kuku, telinga, dan lidah.

Sempat ada kekhawatiran dari tim dokter FKUI ketika menyelesaikan autopsi korban G30S di Lubang Buaya, karena di luar santer diberitakan para jendral disiksa dengan biadab. “Kami sampai waswas karena setelah selesai memeriksa, kami tidak menemukan penis dipotong,” ungkap dr. Lim Joe Thay (Arif Budianto) dalam “Meluruskan Sejarah Penyiksaan Pahlawan Revolusi,” dimuat majalah D&R, 3 Oktober 1998.

“Kami periksa penis-penis korban dengan teliti. Jangankan terpotong, bahkan luka iris saja tidak ada,” pungkas dr. Lim. (*)

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial